
Dua Koto, Sumatera Barat — Nama seorang wartawan bernama Athia mendadak jadi perbincangan hangat di kalangan aparat kepolisian dan masyarakat lokal. Sosok yang mengaku sebagai wartawan senior ini disebut-sebut memiliki gaya komunikasi keras dan blak-blakan — bahkan sampai membuat seorang Kapolsek dan Kapolres menangis, menurut pengakuannya sendiri.
Dalam sebuah percakapan yang kini ramai diperbincangkan, Athia dengan percaya diri mengatakan, “Kalau nggak percaya, tanya aja Kapolsek Dua Koto. Sampai nangis dia ku buat.”
Pernyataan itu menimbulkan gelombang reaksi — dari kalangan jurnalis hingga aparat — tentang batas antara ketegasan profesi dan kesombongan pribadi.
Sejumlah pihak menilai, perilaku semacam ini mencoreng citra wartawan sejati yang seharusnya mengedepankan etika, bukan intimidasi. “Kalau benar sampai membuat aparat menangis karena tekanan, itu bukan kebanggaan, tapi pelanggaran moral profesi,” ujar salah satu pengamat media yang enggan disebutkan namanya.
Namun di sisi lain, ada pula yang menilai bahwa gaya keras Athia mungkin lahir dari semangat membongkar praktik yang tidak transparan. “Bisa jadi itu ekspresi frustrasi terhadap aparat yang lambat tanggap,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya integritas dan keseimbangan dalam dunia jurnalistik — bahwa menjadi “tajam” bukan berarti harus menjadi
“arogan.”

