Wartawan Senior Kontroversial “Athia”: Ketegasan atau Arogansi?

Uncategorized96 Dilihat

Dua Koto, Sumatera Barat — Nama Athia, yang mengaku sebagai wartawan senior, kini menjadi sorotan tajam publik dan aparat kepolisian setempat. Gaya komunikasi Athia yang blak-blakan dan keras disebut-sebut sampai membuat seorang Kapolsek dan mantan Kapolres menangis, menurut pengakuan langsungnya.

 

Dalam percakapan yang beredar luas, Athia dengan percaya diri mengatakan, “Kalau nggak percaya, tanya aja Kapolsek Dua Koto. Sampai nangis dia ku buat.” Pernyataan ini memicu perdebatan sengit soal batas antara profesionalisme jurnalistik dan arogansi pribadi.

 

Sejumlah pihak menilai perilaku seperti ini mencederai citra wartawan sejati. “Kalau sampai membuat aparat menangis karena tekanan, itu bukan kebanggaan, tapi pelanggaran moral profesi,” ujar seorang pengamat media yang enggan disebutkan namanya.

 

Di sisi lain, ada yang menilai ketegasan Athia lahir dari frustrasi terhadap birokrasi yang lambat dan praktik yang tidak transparan. “Bisa jadi itu ekspresi semangat membongkar masalah, bukan semata-mata intimidasi,” kata seorang tokoh masyarakat lokal.

 

Kasus ini kembali menegaskan pentingnya integritas, akurasi, dan keseimbangan dalam jurnalistik. Menjadi tajam bukan berarti harus arogan; dan keberanian melaporkan fakta tidak boleh mengorbankan etika atau membuat pihak lain merasa tertekan.

 

Athia sendiri mengaku memiliki rekaman yang bisa membuktikan kronologi peristiwa, menandakan adanya bukti konkret yang bisa diverifikasi

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *